Langsung ke konten utama

Literasi Informasi dan Berita Hoax

Zaman sudah semakin menepakkan sayapnya ke jenjang era modern. Tidak heran jika teknologi sekarang semakin canggih. Dengan kecanggihan tersebut orang-orang sebagai konsumen semakin mudah mendapatkan berita atau informasi yang diinginkan.

Menurut American Library Association (ALA), literasi informasi merupakan serangkaian kemampuan yang dibutuhkan seseorang untuk menyadari kapan informasi dibutuhkan dan kemampuan untuk menempatkan, mengevaluasi, dan menggunakan informasi yang dibutuhkan secara efektif. [Sumber: https://id.m.wikipedia.org/wiki/Literasi_informasi#cite_note-2 Diakses pada 10/08/2020]

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa seseorang yang memiliki kemampuan membutuhkan informasi, harus menempatkan serta mengevaluasi informasi yang di dapat secara efektif.

Mengapa demikian? 

Dikarenakan zaman sudah mulai menciptakan media-media atau teknologi dalam penyebaran informasi, sangat mudah bagi seseorang dalam mendapatkan informasi yang mereka inginkan. Tetapi, dalam memilah informasi tersebut harus ditekankan bahwa tidak semua informasi atau berita yang dapat kita ambil mentah-mentah. Disitulah peran keefektifan informasi yang harus kita terapkan.

Telah banyak berita atau informasi yang tersebar di dunia maya yang kita sendiri belum tau apakah berita tersebut dapat di konsumsi oleh orang-orang atau masyarakat. Maka terciptalah berita HOAX yang telah banyak merenggut jiwa keingintahuan seseorang dalam kebutuhan informasi.

Menurut Silverman (2015), hoax merupakan rangkaian informasi yang memang sengaja disesatkan, tetapi “dijual” sebagai kebenaran. [Sumber: https://id.m.wikipedia.org/wiki/Berita_bohong Diakses pada 10/08/2020]

Dari definisi di atas, sangat jelas bagi kita bahwa peran dalam berliterasi informasi sangat penting kita terapkan. 

Sebagai contoh dampak tertelan langsung berita bohong (HOAX) ialah, menyebabkan menurunnya mental seseorang diakibatkan rasa takut dan was-was sepanjang waktu, sehingga kesehatan fisik terganggu seperti mudah lelah, lemas, pusing, dan lain sebagainya. 

Contoh berita Hoax dari yang saya alami sendiri:

Saya mendapati sebuah berita dari whatsapp group pada minggu (22/3) lalu, bahwasanya telah terjadi kegiatan penyemprotan racun untuk virus corona, yang ternyata itu merupakan berita hoax.

Saya sebagai korban langsung dalam kejadian tersebut, merasakan rasa was-was secara spontan yang menyebabkan timbulnya kepanikan dan rasa takut, "bagaimana jika cairan yang di semprot pada tengah malam itu terhembus angin lalu masuk ke sela-sela ventilasi jendela kamar kos saya, lalu terhirup oleh saya ketika tidur?" Spontan saja saya langsung panik, namun masih berusaha untuk tenang dan berfikir positif.

Namun berselang beberapa saat, saya mendapati berita bahwa itu hanyalah berita bohong (HOAX). Ini sangat disayangkan, betapa banyak orang-orang di luar sana mungkin sudah ditakut-takuti atas isu yang telah beredar. Sebuah kebanggaan juga masih ada orang yang memiliki literasi informasi yang telah memberhentikan berita yang telah tersebar tersebut.

Dari paparan di atas, dapat kita ambil kesimpulan bahwasanya peran berliterasi informasi sangat penting. Kita sebagai makhluk sosial, makhluk yang haus akan informasi, alangkah sangat baik jika tidak langsung menelan informasi secara bulat-bulat. Cari tahu terlebih dahulu akar dari informasi tersebut. Jika telah menemukan titik terang bahwa informasi tersebut adalah HOAX, maka disini kita harus andil dalam memberhentikan informasi bohong tersebut.

Jangan mau jadi manusia yang jahat, yang memberikan informasi atau berita bohong ke sesama kita. Saring terlebih dahulu sebelum menshare berita yang kita dapat.

Komentar

Posting Komentar